Langsung ke konten utama

Pemecah Rindu


Aku menunda memberitahumu 
mengenai seseorang yang membuatmu penasaran
Kamu menebak dengan menyebutkan semua nama orang yang sama- sama 
aku dan kamu kenal

Tapi semua itu jelas salah, 
karena aku meminta bantuan
kepada teman kamu
yang tak pernah ku kenal sebelumnya
dan tak mungkin terfikirkan olehmu

Ya, dia yang aku mintai tolong
memintakan alamat rumah kamu, kepadamu

Penundaan itu memang ku sengaja
Aku hanya ingin
mengobrol panjang denganmu,
itu saja
Kala aku langsung memberitahumu,
aku dan kamu tak akan mengobrol sepanjang tadi malam

Obrolan semalam,
rasanya masih hangat,
menurutku
Tapi tak pernah bisa sehangat dahulu

Hingga berakhir kamu geregetan
karena aku tak segera bilang iya Dan kamu sudah malas mengobrol denganku

Tak apa, terimakasih sudah menemaniku di malam ketiga ramadhan ini
. 
. 
. 



Kamu, yang sudah memecah rinduku semalam.
Berhati- hatilah dimanapun kamu menapakkan kaki, karena bahaya tak pernah mengawali dengan berkata permisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA TAHUN BUKAN SEKEDAR TIGA TAHUN

Berawal dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja Didalam sebuah organisasi di sekolah Entah alasan coba- coba, terdamparlah, tersesatlah, ketariklah atau memang sungguh- sungguh Ditempa bersama- sama, dalam tangis dan tawa, lapar dan haus, sakit dan sehat, suka maupun duka Walau terkadang ada diantara kita yang luntur semangat juangnya Satu persatu mulai mundur Perlahan tapi pasti Ketukan palu tak bisa terhindarkan lagi Tinggal segelintir anak yang masih bertahan Bukan karena visi kita sama Namun karena ada satu buah alasan yang kuat C- I -N- T -A Ya, cinta Gabungan dari 5 huruf yang bisa menafsirkan banyak pemikiran Namun hanya ada satu penafsiran dalam benak kita CINTA pada organisasi dan generasi Itulah sebenar benar alasan dalam hati kita Tetap ada alasan tambahan Dan hal itulah yang menambah presentase keinginan kita untuk bertahan Ingatkah kalian? Ketika kita me...

Beda Februari

Guratan cahaya senja Memecah siluet lensa kamera Perlahan padam Menjauhi kegelapan malam Sinar rembulan menggantikannya Menyihir semua mata yang melihatnya Hingga meneteskan air yang asin rasanya Iya, sinar rembulan Tetesan air itu adalah air mataku Aku menangis Karena menatap pancaran sinarmu Membuatku menerawang ke Februari sebelumnya Saat kamu masih menggenggam erat tanganku Saat kamu masih berjuang bersamaku Kita sering menghabiskan waktu untuk melihat indahnya langit malam bukan? Memandangi sang rembulan serta gugusan bintang, berdua saja Katamu, aku adalah rembulanmu Sedang kamu adalah sinar rembulanku Lalu lekuk bibir kamu mengembang Kedua pipiku juga ikut mengembang Iya, itu dulu Februarinya sudah berbeda Februari sekarang hanya bersama kenang "Tik" Tetes embun mendarat tepat di dahiku Aku baru sadar, sekarang ini hari sedang pagi Aku sudah terlalu lama bergelut dengan kenangan Saatnya aku bersiap perg...

Tanda Tanya

Dengan simpul sepertiga Terpaksa aku katakan Aku bahagia Kamu sudah terbebas dari pengaruh burukku Teruslah melaju Hingga kakiku kelu untuk mengejarmu Tak perlu berbalik arah Lalu menopangku Lanjutkan capaianmu Sesuai batas waktu deadlinemu Aku berharap kau tak mengingatku Karena ketiadaanku mungkin semakin dekat Sedekat salam rinduku kepadamu Di setiap malam heningku Tak perlu mengingatku Entah karena kebahagiaan atau kesedihan yang pernah kau cipta bersamaku Sekarang, kamu ya kamu Tanpa bayanganku (Kediri, 8 Juni 2018) Tulisan di atas sengaja ditulis satu minggu sebelum lebaran. Dimana  hari itu adalah hari aku harus sadar dan mulai mengikhlaskan kamu yang jelas masih kucinta, bahkan rasa itu masih ada sampai detik aku mengetik kumpulan kalimat tak berguna ini. Satu minggu itu benar- benar kugunakan untuk bercerita tentang hal yang sebenarnya tidak ada manfaatnya. Seperti orang aneh yang tidak ditanya tapi malah bercerita panjang lebar. Ya itulah aku kal...