Langsung ke konten utama

Berhenti saja dah

Harusnya aku segera tahu diri, 
aku ini siapa?
Di banding dia yang memiliki kelebihan tak terkira.
Aku harusnya tak terus mengemis cintanya.
Mungkin saat itu ia hanya sedang berbaik hati saja, tidak benar- benar cinta.
Bisa jadi karena kasihan melihat diriku yang banyak kurangnya.
Iya, 
aku harusnya segera paham.
Mana mungkin sosok seperti dia mau suka dengan wanita yang jelek seperti diriku.
Hei, 
aku harus sadar!
Saat hari berakhirnya hubunganku dengan dia,
apa dia berusaha memperjuangkan ku?
Tidak-kan?
Lantas kenapa aku masih memperjuangkan dia lagi.
Apa pedulinya dia padaku?
Tidak ada kan?
Sungguh kasihan diriku ini.
Mungkin dengan berakhirnya hubungan itu, malah membuat dia bahagia.
Terbebas dari belenggu apalah.. entahlah....
Ya sudah, terima saja apa kata nasib.
Tak perlu terus- terusan meratapi dia.
Dia yang entah masih peduli atau tidak.
Eitss maaf, aku masih berharap. Aku ralat.
Dia yang jelas tidak peduli.
Harusnya aku tahu di titik mana aku harus berhenti.
Agar tak merugikan diri sendiri.
Cukup!
Sekarang saja!
Iya, sekarang!
Aku harus berhenti sekarang.
Dia tak peduli aku.
Chat ku pun hanya berakhir pada tanda centang dua berwarna biru.
Cukup!
Jangan menangis.
Dia tak menginginkanmu.
Dia sudah tak mencintaimu, bahkan mungkin tak pernah.

Dan maaf, aku masih dan selalu rindu kamu.


P.S. : 
Baiklah, ini adalah efek cemburu. Iya, cemburu pada teman sendiri. Ahhhh... aku menghindari chat laki- laki yang tak berkepentingan dan hanya sekedar basa- basi. Kamu ternyata chattingan dengan beberapa wanita. Ya mungkin karena ingin menjaga pertemanan. Tapi ya sudahlah, itu hidup kamu. Aku hanya teman biasa, tak dekat, tak pernah saling berinteraksi lagi, dan tak memiliki hak atas dirimu. Tapi aku cemburu dan aku tak menampik hal itu. Aku selalu menuliskan banyak hal disini, karena aku pernah baca kutipan dati novel BARA, tertulis bahwa "tak semua yang telah menjabat tanganmu adalah teman". Iya, seperti yang sedang trending sekarang, itu loh tentang Bu Dendy dan temannya sendiri. Ah sudahlah, tak semua peduli dengan ceritaku kadang hanya ingin tahu saja. Abaikan saja tulisan ini, aku hanya berhalusinasi. Menulisnya dihayati, biar seperti nyata terjadi. Hingga air mata keluar tanpa henti. Bisa jadi ini cerita fiksi atau non-fiksi. Entah apa kebenarannya, masih sulit dimengerti. Tapi terkadang air mata itulah jawabannya. Jangan bersedih lalu sekedar simpati, bantu juga dengan doa sepenuh hati. Agar kisahku dan dia tak berhenti sampai disini. Terimakasih banyak sekali. Doa akan memberi jawaban terbaik. Semoga saja, tapi mungkin tak ada yg baca. Seperti biasa, hanya aku yang tahu blog ini. Tak pernah aku share kemana pun. Mungkin yang kepo denganku saja akan mengetahui. Nyatanya aku ini orang biasa, dan tak akan ada yang search namaku di google karena ingin stalking. Jadi, tulisan ini akan aman dari mereka yang iri. Qkwkk sudah ya, abaikan orang yang sedang cemburu ini. Terimakasih. Bye.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA TAHUN BUKAN SEKEDAR TIGA TAHUN

Berawal dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja Didalam sebuah organisasi di sekolah Entah alasan coba- coba, terdamparlah, tersesatlah, ketariklah atau memang sungguh- sungguh Ditempa bersama- sama, dalam tangis dan tawa, lapar dan haus, sakit dan sehat, suka maupun duka Walau terkadang ada diantara kita yang luntur semangat juangnya Satu persatu mulai mundur Perlahan tapi pasti Ketukan palu tak bisa terhindarkan lagi Tinggal segelintir anak yang masih bertahan Bukan karena visi kita sama Namun karena ada satu buah alasan yang kuat C- I -N- T -A Ya, cinta Gabungan dari 5 huruf yang bisa menafsirkan banyak pemikiran Namun hanya ada satu penafsiran dalam benak kita CINTA pada organisasi dan generasi Itulah sebenar benar alasan dalam hati kita Tetap ada alasan tambahan Dan hal itulah yang menambah presentase keinginan kita untuk bertahan Ingatkah kalian? Ketika kita me...

Beda Februari

Guratan cahaya senja Memecah siluet lensa kamera Perlahan padam Menjauhi kegelapan malam Sinar rembulan menggantikannya Menyihir semua mata yang melihatnya Hingga meneteskan air yang asin rasanya Iya, sinar rembulan Tetesan air itu adalah air mataku Aku menangis Karena menatap pancaran sinarmu Membuatku menerawang ke Februari sebelumnya Saat kamu masih menggenggam erat tanganku Saat kamu masih berjuang bersamaku Kita sering menghabiskan waktu untuk melihat indahnya langit malam bukan? Memandangi sang rembulan serta gugusan bintang, berdua saja Katamu, aku adalah rembulanmu Sedang kamu adalah sinar rembulanku Lalu lekuk bibir kamu mengembang Kedua pipiku juga ikut mengembang Iya, itu dulu Februarinya sudah berbeda Februari sekarang hanya bersama kenang "Tik" Tetes embun mendarat tepat di dahiku Aku baru sadar, sekarang ini hari sedang pagi Aku sudah terlalu lama bergelut dengan kenangan Saatnya aku bersiap perg...

Tanda Tanya

Dengan simpul sepertiga Terpaksa aku katakan Aku bahagia Kamu sudah terbebas dari pengaruh burukku Teruslah melaju Hingga kakiku kelu untuk mengejarmu Tak perlu berbalik arah Lalu menopangku Lanjutkan capaianmu Sesuai batas waktu deadlinemu Aku berharap kau tak mengingatku Karena ketiadaanku mungkin semakin dekat Sedekat salam rinduku kepadamu Di setiap malam heningku Tak perlu mengingatku Entah karena kebahagiaan atau kesedihan yang pernah kau cipta bersamaku Sekarang, kamu ya kamu Tanpa bayanganku (Kediri, 8 Juni 2018) Tulisan di atas sengaja ditulis satu minggu sebelum lebaran. Dimana  hari itu adalah hari aku harus sadar dan mulai mengikhlaskan kamu yang jelas masih kucinta, bahkan rasa itu masih ada sampai detik aku mengetik kumpulan kalimat tak berguna ini. Satu minggu itu benar- benar kugunakan untuk bercerita tentang hal yang sebenarnya tidak ada manfaatnya. Seperti orang aneh yang tidak ditanya tapi malah bercerita panjang lebar. Ya itulah aku kal...